Kisah Si Merah Putih

Kisah Si Merah Putih


Langit terlihat begitu biru dan cerah.

            Itulah hal pertama yang kulihat ketika ku merasa tubuhku digerek ke ujung tiang tertinggi di tengah-tengah lapangan yang luas.

            Di bawah, terlihat kerumunan orang berkumpul dan hormat ke arahku sebagai tanda nasionalisme mereka terhadap negaranya. Ekspresi mereka terlihat penuh dengan kebanggaan, bagaikan anak kecil yang telah menyelesaikan potongan puzzle terakhir. Orang-orang tersebut dengan gagah berdiri tegak tanpa memperdulikan keringat mereka yang sudah mulai bercucuran juga balutan perban putih dengan sedikit tembusan darah.

            Aku tak percaya melihat orang-orang ini yang begitu mendedikasikan dirinya terhadap negaranya. Hingga mereka merelakan darah, keringat, dan air mata mereka demi membebaskan negara mereka dari genggaman orang asing yang merampas harta negaranya tanpa hati.

            Bahkan ketika upacara telah dibubarkan, tak sedikitpun mereka melepaskan hormat dan pandangan dariku. Mereka tetap saja diam, berdiri, dengan wajahnya yang berseni-seni, tetesan air mata haru menyusup dari pelupuk mata mereka.

Pemandangan tersebut ikut membuatku bangga.


                                                                        ***

Dengan konsisten mereka melakukan rutinitas yang sama setiap bulan.

            Mereka melipatku serapih mungkin dan meletakkan tubuhku di atas nampan perak. Dengan giringan dari pasukan berseragam putih, mereka membawaku ke tengah lapangan dan menggerek ku ke ujung tiang dengan hormat dari tangan orang-orang yang menonton.

            Pada awal-awal penonton terlihat bersemangat untuk melakukan rutinitas tersebut. Namun, semakin lama rutinitas tersebut berjalan, mereka terlihat semakin bosan dan lelah. Sampai-sampai mereka tertawa, bercengkrama pada saat para pasukan menaikkan tubuhku seolah sudah tak sedikitpun tersisa rasa hormat dan nasionalisme mereka terhadap negara dan pahlawan-pahlawan mereka.

            Hingga pada suatu hari, mereka membawaku ke sebuah gudang sempit dan menyimpanku dalam kotak di lemari dan membiarkanku tak tersentuh sampai berdebu.

                                                                        ***

            Bertahun-tahun rasanya aku ditinggalkan, dilupakan dan dibiarkan tak tersentuh bahkan oleh angin sedikitpun. Bagai hilang ditelan sejarah, orang-orang menghapus keberadaanku dari benak mereka.

Sudah berapa lama aku berada disini? Waktu terus berputar tanpa ada pemberhentian sedikitpun. Terus berlalu dan berlalu sampai tak dapat terhitung lagi. Apakah mereka benar-benar lupa tentang keberadaanku? Keberadaanku yang diciptakan oleh mereka namun terhapuskan pula oleh mereka.

            Aku masih sendiri, ditemani kesunyian yang abadi. Warna tubuhku mulai memudar, terselimut oleh butiran debu yang melekat dengan lembut.

Krekkk...

            Apa itu? Aku mendengar sesuatu, apakah aku berhalusinasi? Apa benar setelah sekian lama terlupakan, masih adakah harapan untukku? Bolehkah aku berharap suara tersebut datang untuk menyelamatkanku dari dunia yang sunyi, senyap, dan sepi ini untuk kembali ke dunia yang seperti dahulu?

Tuk...tuk..

Terdengar suara hentakan sepatu berjalan ke arah tempatku berada. Semakin mendekat...

Mendekat...

Semakin dekat...

Semakin jelas suara hentakan tersebut...

Ckiittt..

            Aku merasakan tubuhku terangkat dan tangan yang membuka penutup yang selama ini menjadi penghalang antara diriku dengan dunia luar. Terasa sinar redup yang tersorot ke arahku.

Kudapatkan sesosok pemuda yang terlihat kaget melihat keberadaanku di hadapannya.

"Apa ini? Balutan kain?" Pemuda tersebut bertanya.

Pemuda itu pun membentangkan tubuhku di udara dan sontak ekspresi wajahnya berubah dari kebingungan menjadi kegirangan.

            "Inikah.... bendera...?" Gumamnya dengan senyuman yang menampakkan kedua lesung pipinya..

            Mengapa pemuda ini terlihat begitu senang melihat sosok diriku? Apakah semua orang seperti dia? Kalau mereka begitu mengharapkan kehadiranku, kenapa mereka menelantarkanku selama ini sendirian di pojok ruangan, tersimpan manis di dalam lemari tanpa satu dari mereka menyadari keadaanku.

            "Aku harus membawa bendera ini keluar dan memperlihatkan kepada dunia bahwa bendera ini tidak hanya sebatas mitos. Ya benar aku harus, aku harus mengembalikan jiwa nasionalisme setiap orang di negara ini, jangan sampai mereka melupakannya lagi." Ucapnya dengan semangat yang berkobar dari dalam dirinya.

            Apa aku tidak salah dengar, mitos? Sudah berapa lama aku disini hingga ia menganggap bahwa aku ini adalah sebuah mitos? Apakah orang-orang telah melupakanku di zaman ini?

            Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh lagi, pemuda tersebut dengan tergesa-gesa membawaku keluar dari ruangan sempit yang telah ku huni selama entah tak terhitung lamanya.

            Pemuda ini mengibaskan tubuhku di atas kepalanya, dan membawaku menuju dunia luar yang telah lama kurindukan.

Tunggu sebentar...

            Dunia apa ini? Aku melihat bangunan-bangunan menjulang tinggi mencakar langit. Kendaraan-kendaraan yang sudah tidak lagi hanya berjalan di darat, namun di udara!

            Cara berpakaian orang-orang pun sangat aneh, berbeda. Banyak sekali berbagai macam orang-orang berjalan di jalanan. Banyak dari mereka yang berpapasan namun tak saling barbicara ataupun menyapa? Mengapa pandangan orang-orang ini begitu terpaku pada benda kecil bercahaya yang ada di genggaman mereka? Apa yang terdapat di benda itu sehingga mereka begitu terhipnotis dan tidak sedikit pun memperhatikan apapun yang terdapat di hadapan mereka secara langsung?
           
            "Hey Panca! Apa yang sedang kau lakukan!? Kain apa itu yang kau bawa?" Ku mendengar suara asing datang dari kejauhan.
           
            "Bendera Saka! Percaya atau tidak ini adalah sebuah bendera! It's the real deal!" Jawab pemuda yang ternyata memiliki nama Panca dengan penuh antusiasme.

            "Hah? Seriusan? I thought that was merely a myth!"  Kelihatannya Saka sangat tidak percaya apa yang dia lihat. 

            Panca hanya merespon temannya itu dengan membentangkanku di depan wajah temannya sambil menampilkan deretan gigi putihnya.

            Mata Saka melebar sebesar kelereng. Mulutnya pun menganga selama beberapa detik sampai akhirnya dia memutuskan untuk berkata...

"Kalau begitu, ayo kita tunjukkan kepada semua orang!"

Mereka pun bertukar senyum dan berlari menuju pusat kota dimana banyak orang berlalu lalang.

***

"Bagaimana cara kita menyampaikannya ke orang-orang?" Tanya Saka.

            Panca hanya menengok kanan-kiri sambil memeluk tubuhku dalam dekapannya. Sampai akhirnya ia berhenti dan matanya berpusat pada suatu tempat.

"There! Di pinggiran air mancur yang pas sekali di tengah-tengah pusat kota!" Kata Panca.

Mereka pun menghampiri air mancur tersebut dan berdiri di atas pinggirannya.

"Hey semuanya!" Teriak Panca sekencang mungkin.

            Orang-orang menoleh ke asal suara itu dan menatapnya sekilas sebelum melanjutkan kesibukan masing-masing. Hal ini membuat Panca kesal.

            "Hey! Lihat benda apa yang ku pegang! Ini adalah sebuah bendera! Sebuah benda pusaka yang dulu merupakan menjadi kebanggaan negara ini! Sebuah benda yang dulu dijaga dengan penuh hormat oleh leluhur-leluhur kita!" Sahut Panca sambil memamerkanku di depan semua orang.

            Mendengar hal itu, sontak orang-orang menghentikan kesibukannya dan memperhatikan Panca.

            "Ya, Bendera ini benar-benar ada di genggamanku. Dia bukan hanya sebatas mitos. Bendera ini yang melambangkan kesatuan dan keberhasilan negara kita. Dialah alasan leluhur kita dulu rela mengorbankan jiwa dan raganya. Memang kelihatannya hanyalah sepotong kain biasa, namun potongan kain ini memiliki banyak makna di mata para pejuang dahulu" ucap Panca dengan mata yang berbinar-binar.

            "Tapi kan itu dahulu, zaman telah berubah! Sekarang kita sudah merdeka! Buat apa kita terpaku pada masa lalu? It's history!"  Sahut salah satu orang yang berada di antara kerumunan.

            "Tetapi apa kalian lupa siapa yang memberikan kalian kemerdekaan tersebut? Don't you want to pay your respect for them? Kalian kira mudah membebaskan negara kita dari tangan orang asing? Bayangkan! Tentara mereka menggunakan pistol! Tau tentara kita menggunakan apa? Bambu runcing! Tapi mereka tidak mengenal kata menyerah! Dan akhirnya? Berhasil kan mereka memerdekakan negara kita?" Seru Saka yang kesabarannya sudah mencapai ujung batas.

            Semua orang diam terpaku. Tak ada kata-kata yang sanggup keluar dari mulut mereka. Tidak ada gerakan yang signifikan.

            Sampai seorang anak kecil yang mungkin tidak lebih dari 8 tahun berjalan mendekatiku. Anak kecil tersebut menggapaiku dengan kedua tangan mungilnya, lalu ia membawaku ke arah wajah tembamnya,

"Maaf dan terima kasih" bisiknya sambil mengecupku.

            Saat anak tersebut melepaskanku, dengan perlahan orang-orang menghampiriku dan melakukan hal yang sama satu-persatu secara bergantian.

            Setiap orang yang maju membisikkanku kata-kata apresiasi kepada para pejuang yang telah mendahului mereka demi negaranya yang tercinta.

Aku melihat senyuman terukir di bibir Panca.

***

Langit terlihat begitu biru dan cerah.

            Itulah hal pertama yang kulihat ketika ku merasa tubuhku digerek ke ujung tiang tertinggi di tengah-tengah lapangan yang luas.

            Di bawah, terlihat kerumunan orang berkumpul dan hormat ke arahku sebagai tanda nasionalisme mereka terhadap negaranya. Ekspresi mereka terlihat penuh dengan kebanggaan, bagaikan anak kecil yang telah menyelesaikan potongan puzzle terakhir. Orang-orang tersebut dengan gagah berdiri tegak tanpa memperdulikan keringat mereka yang sudah mulai bercucuran juga suara dering yang berasal dari saku mereka.

            Aku tak percaya melihat orang-orang ini yang begitu mendedikasikan dirinya terhadap negaranya. Hingga mereka merelakan keringat dan air mata mereka demi memberi apresiasi kepada negara dan para pahlawan mereka.

            Bahkan ketika upacara telah dibubarkan, tak sedikitpun mereka melepaskan hormat dan pandangan dariku. Mereka tetap saja diam, berdiri, dengan wajahnya yang berseni-seni, tetesan air mata haru menyusup dari pelupuk mata mereka.

Pemandangan tersebut ikut membuatku bangga.

Mulai saat ini, mereka tidak mungkin melupakanku.

Iya kan?

***


By: Nadira Wilis XI SCI 3


Assisted by: Nasywa Luthfiyyah Hardi XI SCI 3

_________________________________________________________________________

Cerpen ini dibuat oleh kakak kandungku yang duduk di kelas 11 atau 2 SMA. Dibuat dengan rangka Hari Pahlawan. Terima Kasih telah membaca. Semoga termotivasi!

Komentar